2017-06-29-19-20-26-pexelsphoto196464

Hadapi 5 Kenyataan Hidup yang Sering Menyebabkan Putus Asa. Ini Caranya!

Posted on
Kita tidak akan bisa terus melarikan diri dari kenyataan, dan tidak akan pernah ada lomba lari dari kenyataan. Karena itu, kita harus berani menghadapi kenyataan apa pun di hidup kita.

Adakalanya kita sulit menghadapi kenyataan, bahkan tidak ingin menerimanya. Karena kenyataan seolah begitu kejam dan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Akhirnya, kita berusaha untuk lari dari kenyataan. Terus berlari dan tidak pernah berani menghadapinya.

Seandainya diadakan lomba lari dari kenyataan, mungkin kita sudah menjadi juaranya. Bisa jadi kita berharap bisa memiliki pintu ke mana sajanya Doraemon, supaya bisa langsung melarikan diri ketika kenyataan tiba. Atau seperti Donal bebek yang lari ke Timbuktu, tempat yang sangat jauh dari Kota Bebek. Lebih seru lagi kalau kita bisa memiliki jubah gaib Harry Potter, supaya bisa menghilang sesaat dari kenyataan, memiliki tempat bersembunyi yang paling aman, dan mungkin juga bisa menjadi tempat menangis yang paling nyaman ketika hati terasa begitu sedih.

Akan tetapi, yang menjadi masalah besar bagi kita, semua yang kita harapkan itu tidak akan pernah ada di dunia nyata. Semua itu hanya ada di film dan komik.

Kita tidak akan bisa terus melarikan diri dari kenyataan, dan tidak akan pernah ada lomba lari dari kenyataan. Karena itu, kita harus berani menghadapi kenyataan apa pun di hidup kita.

Harus “strong” menghadapinya, bahkan yang paling berat sekalipun.

Hadapi kenyataan diri sendiri

“Aku tidak sama dengan yang lain.”

“Aku merasa diriku ini aneh.”

Setiap manusia diciptakan berbeda-beda. Bukan aneh, tetapi unik. Seolah-olah semua memiliki cetakan masing-masing. Custom dan limited edition. Bukan produksi massal. Unik karena semua orang akan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Karena itu, kita tidak perlu saling membandingkan.

Jangan sombong kalau memiliki banyak kelebihan, karena kita pasti juga memiliki kekurangan. Sebaliknya, jangan minder memiliki kelemahan, karena kita juga pasti mempunyai kekuatan yang akan diperlukan orang lain.

Hadapilah kenyataan diri sendiri. Bersyukurlah atas keunikan kita. Kembangkan kelebihan dan perbaiki kelemahan. Kemudian, biarkan orang lain ikut membantu ketika kita memang sedang lemah.

Hadapi kenyataan keluarga

“Keluargaku tidak seideal keluarga lain.”

“Aku sangat berbeda dengan saudaraku.”

Sejak hari pertama dilahirkan ke dunia, kita resmi menjadi anak dari orangtua kita, saudara dari kakak adik kita, cucu dari kakek nenek kita. Itulah keluarga. Tidak bisa ditolak, apalagi diganti. Kita tidak akan bisa masuk kembali ke dalam kandungan dan kemudian mencari ibu lain. Bahkan, bukan sekadar ada, kita juga mewarisi gen dari orangtua, yang membuat kita memiliki kesamaan dengan mereka. Karena itu, ketika kita yakin bahwa kelahiran seseorang ke dunia adalah anugerah Tuhan, maka keluarga di mana kita dilahirkan tentu juga merupakan anugerah dari Tuhan.

Hadapilah kenyataan keluarga. Bersyukurlah atas keberadaan mereka. Cintai mereka. Lakukan sesuatu dan selalu doakan mereka. Teruslah berjuang bersama menghadapi segala tantangan hidup.

Hadapi kenyataan sekolah

“Nilaiku tidak sebagus temanku.”

“Sepertinya aku salah memilih jurusan.”

Ada yang sangat bangga dan menikmati sekolahnya, karena masuk sekolah favorit atau jurusan yang didambakan. Namun, kadang hidup tidak seideal itu. Ada yang justru masuk di sekolah atau jurusan yang tidak diharapkan. Yang ada bukannya kebanggaan dan semangat belajar, tetapi kekecewaan dan nasib yang diratapi.

Kalaupun kenyataan tidak sesuai impian kita, tentu berhenti sekolah bukan pilihan terbaik. Karena kita sekolah untuk mencari ilmu, bukan sekadar mencari teman, nilai bagus, atau kebanggaan saja. Di mana pun kita belajar, tugas kita adalah menuntut ilmu sebanyak mungkin, untuk menjadi bekal bagi masa depan.

Hadapilah kenyataan sekolah. Tekunlah mendengarkan guru dan dosen, sehingga tidak ada pelajaran yang sia-sia. Belajar semaksimal yang kita bisa. Kembangkan talenta dan hasilkan karya nyata bagi dunia.

Hadapi kenyataan pekerjaan

“Gajiku tidak sebanyak teman kantorku.”

“Usahaku tidak sesukses yang lain.”

Kalau sekolah akan selesai setelah kita lulus, tetapi bekerja akan berlangsung sangat lama, bahkan entah kapan pensiunnya. Pekerjaan akan sangat menyita banyak waktu dalam hidup kita. Karena itu, ketika kita menjalaninya dengan stres, pasti akan berdampak buruk bagi hidup kita. Masa, sih, kita mau hidup dengan stress yang tiada berujung? Adakalanya kita harus berganti pekerjaan dan berani memulai tantangan baru. Ketika kita melihat pekerjaan sebagai suatu kewajiban, dan hanya berfokus pada uang, maka kita akan menjadi sangat lelah.

Kita memang harus mencari uang, tetapi selain membuat hidup kita menjadi lebih baik, fokuskan hidup kita untuk membuat kehidupan sesama menjadi lebih baik juga. Dengan demikian, kita bisa menjadi berkat bagi sesama.

Hadapilah kenyataan pekerjaan. Nikmati setiap hari kerja kita. Cari apa yang menjadi rencana Tuhan bagi kita. Fokuslah kepada bagaimana bisa memberikan dampak bagi dunia, dan pikirkan juga tentang kesejahteraan orang lain.

Hadapi kenyataan pasangan hidup

“Aku selalu gagal dalam percintaan.”

“Kisah cintaku tidak seindah yang lain.”


Setiap orang, khususnya para gadis, pasti ingin memiliki kisah cinta yang indah seperti dongeng ataupun drama korea. Akan tetapi, yang terjadi sering kali malah sebaliknya. Kita mendapatkan kisah yang begitu complicated dan bahkan menyedihkan. Kadang kita juga seperti kejar setoran. Pacaran karena semua teman sudah berpasangan. Menikah karena undangan pernikahan dari teman terus berdatangan. Padahal kita memiliki kisah cinta masing-masing, memiliki jodoh yang memang disediakan secara spesial oleh Tuhan bagi kita. Bisa jadi, kenyataannya berbeda dengan yang kita impikan, tetapi yakinlah kalau itu yang terbaik.

Hadapilah kenyataan pasangan hidup. Setia menantikan waktu Tuhan. Jalanilah kisah cinta yang sesuai dengan rencana Sang Pencipta. Cari pasangan terbaik, dan jangan lupa untuk terus mendoakan pasangan hidup kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *